Haruskah Berupa Produk?

Lomba Karya Tulis Ilmiah Widyaiswara PPPPTK dan LPMP seIndonesia diadakan oleh direktorat Bindiklat di Bogor, 11-14 Agustus 2010.  Hehe, biarpun penulis blog ini bukan WI, alhamdulillah diberi kesempatan berpartisipasi di acara ini (beginilah nasib NSP!). Ada lebih dari 100 peserta dari penjuru nusantara, dan hanya diambil 10 peserta untuk mendapat penghargaan dan diikutkan pada peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara.  Dan yah demikianlah, saya tidak lolos! But its ok, banyak hal yang saya peroleh  … Jadi maaf ya, sungguh menyesal kalau menolak kesempatan seperti ini (hoho, sedikit memanas-manasi biar pada semangat menulis nih😉 ) . Berikut beberapa hal yang menjadi catatan saya mengikuti kegiatan ini:

1. Hampir 80% karya tulis yang lolos penyisihan adalah karya tulis yang bersifat riset dan pengembangan yang menghasilkan ‘produk’. Well, tentunya asumsi dewan juri adalah mengembangkan produk dan menelitinya lebih sulit dari pada hanya sekedar meneliti fenomena atau tindakan. Dan tentunya produk yang diharapkan adalah produk yang bermanfaat. Hmm, sebenarnya saya kurang setuju dengan asumsi yang digiring sedemikian. Okelah, mengembangkan produk yang bermanfaat is a very good thing. Tetapi banyak hal dalam dunia pendidikan yang tidak bisa diatasi hanya dengan ‘produk’, dan memerlukan kajian mendalam untuk diatasi. Misalnya dengan penelitian tindakan kelas/sekolah/diklat. Penelitian ini bertujuan menguji ‘obat’ yang diracik sang pendidik untuk mengetahui apakah benar ‘obat’ ini dapat menyembuhkan ‘penyakit’ peserta didik. Ini belum tentu produk, tetapi ketika penelitian dilakukan dengan benar hasilnya akan sangat bermanfaat.

Tetapi saya ingat nasihat salah satu narasumber sekaligus juri, Prof. A Mukaddis. Beliau mengatakan, “pelajarilah gaya menelikung…”. Maksudnya, ini toh sifatnya kompetisi, jadi sangat wajar jika punya aturan dan kebijakan sendiri yang harus kita siasati.

2. Dosa-Dosa yang Sering Dilakukan Penulis

Wah, pada sesi ini terungkap semua kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan ketika menyusun penelitian. Mulai dari kesalahan mengungkapkan latar belakang, rumusan masalah yang tidak ‘nyambung’ dengan kesimpulan, alur dasar teori yang ‘meloncat’, tata bahasa dan kaidah penulisan, konsep metode, analisis data dan masih banyak yang lainnya. Masih banyak yang harus saya pelajari, tetapi itu bukanlah hal yang tidak bisa dipelajari🙂

3. Banyaklah membaca dan jangan menunda menulis.

Logikanya sederhana, seseorang tidak mungkin menulis dengan baik tanpa membaca referensi. Tetapi membacapun tidak ada artinya jika ilmu itu tidak dishare melalui tulisan.

Hmm, apa lagi ya? Mungkin ini saja dulu yang teringat untuk saya tulis segera. Oh ya, selamat menjalankan ibadah ramadhan 1431 H🙂

2 thoughts on “Haruskah Berupa Produk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s