Kisah tentang UNAS

Well, tulisan ini sudah dimuat di Kompasiana dan saya ingin memuatnya juga di blog saya (hehehe, tentunya dengan bahasa sebelum melewati pihak editorial kompas :D).  Semoga dengan lebih banyak blogger yang membaca, lebih banyak juga masukan dan saran ttg kenyataan ini.

Teleponku berdering di selasa sore di hari kartini (21 April 2009), hari kedua UNAS SMA/SMK. Beliau seorang guru, seorang wanita, yang seharusnya sedang menikmati jerih payah Kartini, menghabiskan gelap dan menerbitkan terang. Namun apa yang terjadi sungguh suatu ironi.

UNAS : ujian nasional. Dulu disebut Ebtanas. Dilema itu muncul ketika nilai UNAS dijadikan standar kelulusan, dengan nilai rata-rata minimal 5,5 dan setiap mata pelajaran harus bernilai di atas 4,0. Secara target, angka-angka itu mungkin memang indah, apalagi ketika diharapkan setiap tahun angka-angka itu dapat terus ditingkatkan. Tentunya jika itu angka yang benar-benar memproyeksikan kualitas belajar siswa.

But who knows bagaimana sistem merespon hal ini? Ini adalah penuturan seorang sahabat saya itu di suatu kota di pulau Sumatera. Betapa Tim Sukses itu benar-benar ada. Betapa dia sangat bersyukur tidak dijadikan pengawas UNAS di sekolahnya sendiri. Merupakan suatu resiko besar ketika terpilih menjadi pengawas namun tidak ‘membantu’ Tim Sukses menjalankan kewajibannya (tebak sendiri ya?!) Intinya, pengawas harus mengijinkan siswa tetap menggunakan hp (walaupun secara peraturan jelas dilarang). Why? Karena dengan alat bernama hp inilah Tim Sukses (yang terdiri dari guru-guru mereka sendiri) mengirim jawaban! Ckckck…

Bagi sahabatku, hal itu bukanlah masalah terbesar. Masalah terbesar justru ada di mental dan moral siswa. Mereka masih sangat hijau, namun mereka sudah diajarkan bagaimana melakukan kolusi yang dilegalkan. Siswa, mungkin dari kakak kelas mereka dahulu, sudah mengetahui bahwa mereka pasti akan ‘dibantu’ oleh sebuah sms keramat. Entahlah, tapi sahabatku bercerita seolah-olah siswa kehilangan kepercayaan diri mereka. Setiap sahabatku mengingatkan mereka untuk belajar, mereka dengan yakin menjawab : “Ah itu mudah…” Mungkin tidak semua siswa demikian, di kelas manapun akan ada ‘siswa yang rajin belajar’. Namun yang membuat lebih miris justru ketika siswa rajin dan pintar ini berkata, “Saya belajar bu, tapi tetap dikirim jawaban ya cuma untuk memastikan saya lulus atau tidak…” Mereka benar-benar tidak percaya kemampuan diri sendiri.

Ketika jumlah siswa lulus dan angka kelulusan menjadi prestise, inilah yang terjadi. Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi bukan ketika tergabung sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di Tim Sukses. Saya paham, mungkin guru pun terjebak oleh sistem yang sulit diruntuhkan. Karena, rasa ‘malu’ akibat banyak siswa yang tidak lulus bukan hanya ditanggung oleh siswa, namun juga oleh sekolah, kepala sekolah, bahkan dapat juga sederet kepentingan politis lain. Tetapi benarkah ini yang solusinya?

Sahabatku, dia pun tidak berdaya. Tahun ini dia terselamatkan karena dia menjadi pengawas di sekolah lain. Entah bagaimana dengan tahun depan. Dan saya pun hanya dapat memberi secuil masukan. Saya teringat sepenggal kalimat, “Mulailah dari diri sendiri, mulailah hari ini, dan mulailah dari hal terkecil.” Dan saya salut kepada sahabat saya, yang menangis karena batinnya menolak, yang tetap tidak menyerah mengingatkan siswanya untuk percaya pada kemampuan mereka, dan bersedia menceritakan hal ini untuk mencari solusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s