Sukses Suku Quraisyi

Surat Al- Quraisyi merupakan surat ke 106 dalam kitab suci Al-Quran yang terdiri dari 4 ayat. Tulisan ini saya ambil dari Tafsir Al Quran Kontemporer milik Aam Amiruddin, yang mencuplik Al-Quran dan Tafsirnya Jilid X hal 182 Tim Tafsir UII. Ternyata surat yang begitu singkat ini mengandung pedoman hidup yang padat.

Berikut terjemahan surat Al-Quraisyi, untuk lafadznya Anda dapat mencari sendiri di Al-Quran (mudah-mudahan menjadi motivasi untuk saya dan Anda untuk membacanya).

Dengan nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisyi
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas
3. maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah (ka’bah) ini
4. yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan

Secara garis besar, dapat diperhatikan bahwa syarat-syarat membangun kesuksesan ekonomi yang kokoh menurut ayat-ayat ini adalah :
a. Kesuksesan dapat diraih dengan latihan yang kontinyu, pembiasaan positif dan terus menerus, cause experience is the best teacher! Hal ini dapat dilihat dari kata li ilaa ( karena kebiasaan). Well, kita tahu untuk poin ini sebenarnya berlaku di seluruh bidang kehidupan, ya to?
b. Kesuksesan bias diraih dengan membangun citra positif sehingga memperoleh kepercayaan dari orang lain. Maksud ini diambil dari kata Quraisyi , yang merupakan nama salah satu suku yang memiliki citra positif sebagai pengurus baitullah dan kota Mekkah sehingga disegani suku-suku lain.
c. Selanjutnya adalah : NETWORKING (jaringan). Tentu saja, sehebat apapun potensi diri kita apabila tidak dapat mempromosikannya akan menjadi tidak ada berarti. Dalam dunia bisnis modern, masalah networking menjadi urat nadi kesuksesan. Maksud ini diambil dari kata rihlah (bepergian). Orang-orang Quraisyi memiliki kebiasaan untuk melakukan perjalanan bisnis ke selatan (Yaman) pada musim dingin dan ke utara (Syam) pada musim panas. Ini menjadi salah satu faktor mengapa suku Quraisyi begitu dikenal di Semenanjung Arab.
d. Faktor selanjutnya adalah timing . Pengambilan keputusan sehebat apapun kalau tidak memperhatikan situasi dan kondisi bisa-bisa malah jadi boomerang. Perhatikan kata assyitaai wa shaiif ( musim dingin dan musim panas ) . Bukankah memperhatikan musim merupakan simbol dari memperhatikan situasi dan kondisi ?
e. Setelah keempat hal di atas, yang terpenting adalah kesuksesan harus melahirkan jiwa syukur. “Saya bangga mengenal seorang mukmin, apabila ditimpa musibah dia bersabar dan apabila meraih sukses dia bersyukur ……“ Kiranya hal ini yang dimaksud pada ayat 3 dan 4 : maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah (ka’bah) ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan

Mungkin itu saja, yang penting bagaimana mengamalkannya mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s