Alhamdulillah, ternyata kemanapun saya melangkah matematika tetap tidak terlepaskan. Jadi teringat, di bandung pun dipaksa (tanpa ancaman koq) oleh mahasiswa D4 untuk tutorial kalkulus….. Hayoo, kalau kalian membaca blog ini mengakulah!
Eits, kembali ke judul semula. Ini adalah sedikit pengalaman saya menjadi pendamping tim ekstrakurikuler olimpiade matematika SMP dan SMA. Ok, pengalaman di SMA aja dulu ya….
Karena saya benar-benar blank dan tidak ada informasi akurat tentang kematangan siswa, jadi saya siapkan soal yang benar-benar random tingkat kesulitannya. Di samping itu, sesuai pesanan pihak sekolah, saya menyiapkan bahan sesuai kelompok materi. Yakni untuk SMA adalah :
aljabar, trigonometri, geometri, statistik, peluang, dan kalkulus.
Well, pertemuan pertama adalah aljabar. Saya menyiapkan 5 soal, beberapa diantaranya adalah soal International Mathematic Olympiade.
Soal pertama, percobaan. Siswa meminta membuktikan apakah fungsi berikut merupakan fungsi genap.

(Ssssst, sebenarnya versi asli soal adalah pilihan ganda. Tapi saya pikir hal ini akan lebih menyulitkan siswa, karena mereka harus memeriksa setiap pilihan apakah fungsi ini ganjil, genap, ganjil genap, atau tidak sama sekali. Dan pilihan-pilihan itu adalah hal yang sangat mungkin di matematika).
Pada bagian ini saya tekankan pada siswa beberapa hal, yakni :
1. Kuasai definisi
Segala hal di matematika berangkat dari definisi, karena sesungguhnya matematika berawal dari konvensi (tentu saja bukan ini bahasa yg saya pilih untuk siswa).
2. Berpeganglah pada apa yang akan dibuktikan.
Hal ini terlihat jelas ketika beberapa siswa justru sibuk menyamakan penyebut (harap maklum, mungkin ini refleks yg biasa terjadi jika bertemu pecahan
), yang sebenarnya semakin menjauhkan dari apa yang akan dibuktikan.
3. Ide!
Kata yang sangat singkat tapi berat…. Untuk ini memang perlu rajin berlatih.
Nah nah nah, selanjutnya saya mencoba menurunkan tingkat kesulitan soal. Soal pembuktian sederhana, yakni membuktikan :

Saya sengaja menggundulkan syaratnya, berharap ada siswa yang jeli bahwa pertidaksamaan itu tidak sah untuk x tertentu. Semenit, dua menit, tiga menit…. lho koq tidak ada yang protes? Walaaah, anak2 terlalu bersemangat sampai2 tidak membaca soal dengan seksama… (apa tutornya yang keisengan ya?hihihi…)
Yowis, ga masalah. The show must go on! Dengan syarat yang sudah ditambahkan, sangat mudah mengerjakan soal tadi.
Tapi….. Hmm, sepertinya anak2 harus lebih rajin belajar kalimat pembuktian. Karena bagaimanapun benarnya perhitungan, pembuktian akan menjadi kacau jika alurnya tidak teratur. Bismillah, ini catatan buatku. Hmm, pertemuan selanjutnya bagaimana ya? Sepertinya saya harus mengubah strategi nih, seperti apa dan bagaimana ya? Tunggu report selanjutnya ya (hehehe, ga maksa koq!)
(wah, apa harus membuat new categorie ya di blog ini?)